Rabu, 27 Februari 2013

Komunikasi Terapeutik Klien dengan Gangguan Sensoris



BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari – hari kita tidak bisa lepas dari kegiatan komunikasi, kenyataannya memang komunikasi secara mutlak merupakan bagian integral dari kehidupan kita, tidak terkecuali kita yang berstatus sebagai perawat yang tugas sehari – harinya berhubungan dengan klien, dengan keluarga klien, sesama teman, dengan atasan, dokter dan sebagainya.

Komunikasi adalah saran yang efektif dalam memudahkan perawat melaksanakan peran dan fungsinya dengan baik.

Komunikasi terapeutik dilakukan pada seluruh klien yang memerlukan bantuan di bidang kesehatan, diantaranya adalah komunikasi terapeutik yang dilakukan pada  pasien dengan gangguan sensoris.

Gangguan sensoris pada klien atau individu di dalam masyarakat umumnya antara lain disebabkan oleh gangguan anatomic organ, gangguan fisiologik organ, kematangan/ maturasi, degenerasi, kognitif persepsi.

Gangguan sensoris pada manusia terdiri dari gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dan gangguan bicara.

Dalam berkomunikasi pada klien dengan gangguan sensoris sering kali perawat berhadapan dengan kesulitan-kesulitan, hal ini berkaitan dengan masalah sensoris yang berbeda - beda pada setiap klien yang memiliki gangguan sensoris oleh karena itu diperlukan keahlian dan keterampilan khusus bagi perawat dalam berkomunikasi dengan klien dengan gangguan sensoris.
Oleh karena kesulitan – kesulitan tersebut diatas, maka kelompok tertarik untuk membahas masalah komunikasi terapeutik pada klien gangguan sensoris.


B.     Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan adalah sebagai berikut :

1.      Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa/I dapat mengetahui tentang Komunikasi Terapeutik Pada Klien Dengan Gangguan Sensoris.

2.      Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa/I dapat memahami :
-          Pengertian komunikasi terapeutik
-          Kegunaan
-          Tujuan
-          Fase-fase dalam komunikasi
-          Factor-faktor penghambat komunikasi
-          Tehnik-tehnik komunikasi
-          Sikap komunikasi terapeutik
-          Tehnik-tehnik komunikasi pada klien dengan gangguan sensoris


C.     Metode penulisan
Dalam penulisan kelompok menggunakan pendekatan study pustaka, dimana kelompok mengambil bahan – bahan tentang Komunikasi Terapeutik Pada Klien Dengan Gangguan Sensoris dari internet dan buku pustaka.




BAB II
TINJAUAN TEORITIS


1.      Pengertian komunikasi terapeutik
Komunikasi adalah pengiriman atau tukar menukar informasi, ide dan sebagainya ( Oxford Dictionary, 1956 ).

Komunikasi terapeutik adalah hubungan perawat-klien yang harmonis sehingga perawat dapat merubah prilaku klien untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal (stuart & sunden).

Komunikasi terapeutik adalah proses dimana perawat yang menggunakan pendekatan terencana mempelajari klien. Proses memfokuskan pada klien namun direncenakan dan di pimpin oleh seorang professional ( Keltner, Schwecke, dan Bostrom 1991 ).

2.      Kegunaan
Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan.

Proses komunikasi yang baik dapat memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien untuk dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan. Sedangkan pada tahap preventif kegunaannya adalah mencegah adanya tindakan yang negative terhadap pertahanan diri pasien.



3.      Tujuan
Tujuan komunikasi terapeutik adalah :
a.       Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
b.      Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
c.       Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.

4.      Fase – fase dalam komunikasi terapeutik
Fase komunikasi terapeutik dalam hubungan perawat pasien terdiri dari 3 fase yaitu :
a.       Fase preinteraksi
-          Gali perasaan, fantasi dan rasa takut dalam diri sendiri
-          Analisis kekuatan dan keterbatasan professional diri sendiri
-          Kumpulkan data tentang pasien jika memungkinkan
-          Rencanakan untuk pertemuan pertama dengan pasien

b.      Fase perkenalan / orientasi
-          Tetapkan alasan pasien untuk mencari bantuan
-          Bina rasa percaya
-          Gali pikiran, perasaan, dan tindakan – tindakan pasien
-          Identifikasi masalah pasien
-          Tetapkan tujuan dengan pasien
-          Rumuskan bersama kontrak yang bersifat saling menguntungkan

c.       Fase kerja
-          Gali stressor yang relevan
-          Tingkatkan pengembangan penghayatan dan penggunaan mekanisme koping pasien yang konstruktif

d.      Fase terminasi
-          Bina realitas tentgang perpisahan
-          Tinjau kemajuan terapi dan pencapaian tujuan - tujuan
-          Gali secara timbale balik perasaan penolakan

5.      Factor – factor penghambat komunikasi
a.   Kecakapan yang kurang dalam berkomunikasi. Kurang cakap berbicara ( terutama di depan umum ), berbicara tersendat – sendat, menyebabkan pendengar menjadi jengkel dan tidak sabar.
b.   Sikap yang kurang tepat. Seorang guru yang sedang mengajar di depan kelas, sambil duduk diatas meja akan memberi kesan kurang baik bagi siswanya.
c.   Kurang pengetahuan. Seorang yang kurang pengetahuannya jarang membaca atau mendengarkan radio atau televisi. Akan mengalami kesulitan dalam mengikuti pembicaraan orang lain.
d.  Kurang memahami system social.
e.   Prasangka yang tidak beralasan.
f.    Jarak fisik, komunikasi menjadi kurang lancer bila jarak antara komunikator dengan reseptor berjauhan.
g.   Tidak ada persamaan persepsi.
h.   Indera yang rusak.
i.     Berbicara yang berlebihan. Berbicara berlebihan sering kali akan mengakibatkan penyimpangan dari pokok pembicaraan.
j.     Mendominir pembicaraan, dan lain sebagainya.

6.      Tehnik – tehnik komunikasi terapeutik
Menurut Wilson, Kneils, Stuart & sundeen tehnik-tehnik komunikasi dibagi :
  1. Mendengarkan
Perawat berusaha mengerti klien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan klien berupaya untuk memahami perasaan klien sikap yang dibutuhkan adalah pandang klien saat sedang bicara, tidak menyilangkan kaki dan tangan, hindari gerakan yang tidak perlu, condongkan tubuh kearah lawan bicara, anggukan kepala jika klien membicarakan hal yang penting atau memerlukan umpan balik.

  1. Menunujukkan penerimaan
Menerima tidak berarti menyetujui, menerima berarti bersedia mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan ketidak setujuan atau keraguan. Perawat harus waspada terhadap ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang menyatakan tidak setuju, seperti mengerutkan kening, menggeleng, yang menyatakan tidak setuju. Sikap yang dibutuhkan adlah mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan, umpan balik memastikan isyarat non verbal, cocok dengan komunikasi verbal, menghindari perdebatan.

  1. Broad opening
Perawat memberi beberapa pertanyaan yang memungkinkan klien mengungkapkan perasaannya.

  1. Mengulang ( Restarting )
Melalui pengulangan kembali kata – kata klien, perawat memberi umpan balik bahwa ia mengerti dan berharap komunikasi dilanjutkan.

  1. Klarifikasi
Menjelaskan kembali ungkapan pikiran yang dikemukakan klien yang kurang jelas bagi perawat agar tidak terjadi salah pengertian.

  1. Mengarahkan pembicaraan
Perawat membantu klien untuk memfokuskan pembicaraan agar lebih spesifik atau terarah. Tujuannya membatasi pembicaraannya. Hal yang perlu diperhatikan jangan memutuskan pembicaraan. Tehnik ini biasanya digunakann untuk mendapat data / informasi tentang suatu masalah.


  1. Membagi persepsi
Perawat mengungkapkan persepsinya tentang pasien dan meminta umpan balik dari pasien.

  1. Refleksi
Perawat mengulang kembali apa yang dibicarakan klien untuk menunjukkan kalau perawat mendengar dan mengerti apa yang dibicarakan klien. Refleksi ini memberi kesempatan kepada klien untuk memahami sikap dan perasaannya sendiri. Keraguan – keraguan diungkapkan  oleh orang lain dengnan caranya sendiri. Tehnik ini digunakan untuk mengungkapkan agar masalahnya menjadi lebih jelas.

  1. Identifikasi tema
Perawat mengidentifikasin informasi yang disampaikan klien selama percakapan di ekspresikan ke dalam masalah klien dan bagaimana pemecahannya.

  1. Diam ( Silence )
Diam akan memberi kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir pikirannya. Penggunaan metoda ini memerlukan keterampilan dan ketepatan waktu jika  tidak akan menimbulkan perasaan tidak enak. Diam menggungkapkan klien berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

  1. Memberi informasi
Perawat berupaya memberi fakta untuk meningkatkan pengetahuan klien.

  1. Saran
Merupakan tehnik komunikasi yang baik bila digunakan pada waktu yang tepat dan konstruktif.



  1. Memberikan penghargaan
Penghargaan janganlah sampai menjadi beban dalam arti jangan sampai klien berupaya keras dan melakukan segala – galanya demi untuk mendapatkan persetujuan atau pujian atas perbuatannya. Memberikan salam kepada klien dengan menyebutkan namanya menghargai klien sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai hak dan tanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai individu.

  1. Memberi kesempatan untuk memulai pembicaraan
Memberi kesempatan kepada klien untuk  berinisiatif dalam memilih topic pembicaraan untuk klien yang ragu – ragu dan tidak pasti tentang perasaannya. Dalam interaksi ini perawat dapat menstimuluskan untuk mengambil inisiatif dan merasakan  bahwa ia diharapkan untuk membuka pembicaraan.

  1. Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan
Tehnik ini mem berikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan. Tehnik ini juga mengindikasikan bahwa perawat mengikuti apa yang sedang dibicarakan dan tertarik apa yang akan dibicarakan selanjutnya.

  1. Meringkas
Meringkas dan pengulangan ide utama yang telah di komunikasikan secara singkat metode ini bermanfaat untuk mengingat topic – topic yang telah dibahas sebelum meneruskan pembicaraan selanjutnya.

7.      Sikap komunikasi terapeutik
Sikap komunikasi terapeutik adalah :
-          Berhadapan
Arti dari posisi ini adalah “ saya siap untuk anda “.

-          Mempertahankan kontak mata
Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
-          Membungkuk kearah klien
Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.

-          Mempertahankan sikap terbuka
Tidak melipat kaki atau tangan, menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.

-          Tetap rileks
Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon pada klien.


Komunikasi non verbal :
-          Isyarat vocal
-          Isyarat tindakan
-          Isyarat objek
-          Sentuhan

Dimbley dan Burton ( 1992 ) mengatakan bahwa bahasa tubuh mempunyai beberapa unsur :
1.      Gerak tubuh
Ketika berbicara orang membuat gerakan dengan tangan mereka, beberapa orang lebih banyak membuat gerakan tangan ini dibandingkan beberapa orang lainnya.

2.      Ekspresi wajah
Dari ekspresi wajah dapat dilihat seseorang mendengar merasa senang, bingung, atau terganggu akan dapat dikenali dengan mengamati mata dan mulutnya.



3.      Pandangan
Pandangan terkoordinasi sangat erat dengan bicara, pembicaraan biasanya mendengar sebelum ia memutus tata bahasa dan terutama sebelum berakhir perkataan.

4.      Postur
Cara tubuh ditopang memberi petunjuk umum tentang kepercayaan diri, perhatian, kebosanan, konfrontasi dan reaksi – reaksi spesifik lainnya.

5.      Jarak tubuh dan kedekatan
Orang membutuhkan ruang tertentu disekeliling mereka, agar mereka merasa nyaman dan kebutuhan ini berbeda – beda tergantung pada usia, jenis kelamin dan budaya.

6.      Sentuhan
Menunjukkan banyak hal tentang sifat hubungan dan derajat persahabatan diantara dua orang. Sentuhan adalah sebuah pembawa pesan yang ampuh seperti yang dikenai oleh para kekasih, teman, saudara dan korban pelecehan atau kekerasan seksual.

7.      Pakaian
Cara dan jenis pakaian, rambut perhiasan dan merias wajah berbicara banyak tentang kepribadian, peran, pekerjaan, status dan suasana hati seseorang.

8.      Tehnik – tehnik komunikasi pada klien dengan gangguan sensoris
  1. Klien dengan gangguan penglihatan
Gangguan penglihatan dapat terjadi baik karena kerusakan organ, misal : conea, lensa mata, kekeruhan humor vitreus, maupun kerusakan cornea, serta kerusakan saraf penghantar inpuls menuju otak. Kerusakan di tingkat persepsi antara lain dialami klien dengan kerusakan otak. Semua ini mengakibatkan penurunan visus hingga dapat menyebabkan  kebutaan, baik parsial maupun total.
Akibat kerusakan visual kemampuan menangkap rangsang ketika berkomunikasi sangat bergantung pada pendengaran dan sentuhan. Oleh karena itu komunikasi yang di lakukan harus mengoptimalkan fungsi pendengaran dan sentuhan karena fungsi penglihatan sedapat mungkin harus digantikan oleh informasi yang dapat di transper melalui ondera yang lain. Sebagai contoh ketika melakukan orientasi ruangan, klien harus mendapat keterangan yang memvisualisasi kondisi ruang rawat secara lisan, misalnya dengan menerangkan letak meja dan kursi, menerangkan berapa langkah posisi tempat tidur dari pintu, letak kamar mandi dan sebagainya.

Berikut adalah tehnik – tehnik yang perlu diperhatikan selama berkomunikasi dengan klien yang mengalami gangguan penglihatan.
a.         Sedapat  mungkin ambil posisi yang dapat dilihat klien bila ia mengalami kebutaan parsial atau sampaikan secara verbal keberadaan / kehadiran perawat ketika anda berada di dekatnya.
b.         Identifikasi diri anda dengan menyebutkan nama ( dan peran ) anda.
c.         Berbicara dengan menggunakan nada suara normal karena kondisi klien tidak memungkinkannya menerima pesan nonverbal secara visual. Nada suara anda memegang peranan besar dan bermakna bagi klien.
d.        Terangkan alasan anda menyentuh atau mengucapkan kata – kata sebelum melakukan sentuhan pada klien.
e.         Ketika anda akan meninggalkan ruangan atau hendak memutus komunikasi/ pembicaraan, informasikan kepadanya.
f.          Orientasikan klien pada suara – suara yang terdengar di sekitarnya.
g.         Orientasikan klien pada lingkungannya bila klien dipindah ke lingkungan yang asing baginya.

  1. Klien dengan gangguan pendengaran
Gangguan pendengaran dapat terjadi berupa penurunan pendengaran hingga tuli. Bentuk tuli yang selama ini dikenal ialah tuli perspektif dan tuli konduktif. Tuli perspektif adalah tuli yang terjadi akibat kerusakan system saraf, sedangkan tuli konduktif terjadi akibat kerusakan struktur penghantar rangsang suara.

Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.

Berikut adalah tehnik – tehnik komunikasi yang dapat digunakan klien dengan gangguan pendengaran.
a.     Orientasikan kehadiran diri anda dengan cara menyentuh klien atau memposisikan diri di depan klien.
b.     Usahakan menggunakan bahasa yang sederhana dan bicaralah dengan perlahan untuk memudahkan klien membaca gerak bibir anda.
c.     Usahakan berbicara dengan posisi tepat di depan klien dan pertahankan sikap tubuh dan mimic wajah yang lazim.
d.    Jangan melakukan pembicaraan ketika anda sedang mengunyah sesuatu ( misalnya makanan atau permen karet ).
e.     Gunakan bahasa pantomin bila memungkinkan dengan gerakan sederhana dan perlahan.
f.      Gunakan bahasa isyarat atau bahasa jari bila anda bisa dan diperlukan.
g.     Apabila ada sesuatu yang sulit untuk dikomunikasikan, cobalah sampaikan pesan dalam bentuk tulisan atau gambar ( symbol ).

  1. Klien dengan gangguan wicara
Gangguan wicara dapat terjadi akibat kerusakan organ lingual, kerusakan pita suara, ataupun gangguan persarafan. Berkomunikasi dengan klien dengan gangguan wicara memerlukan kesabaran supaya pesan dapat dikirim dan ditangkap dengan benar. Klien yang mengalami gangguan wicara umumnya telah belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat atau menggunakan tulisan dan gambar.

Pada saat berkomunikasi dengan klien dengan gangguan wicara, hal – hal berikut perlu diperhatikan.
a.       Perawat benar – benar dapat memperhatikan mimic dan gerak bibir klien.
b.      Usahakan memperjelas hal yang disampaikan dengan mengulang kembali kata – kata yang diucapkan klien.
c.       Mengendalikan pembicaraan supaya tidak membahas terlalu banyak topic.
d.      Mengendalikan pembicaraan sehingga menjadi lebih rileks dan pelan.
e.       Memperhatikan setiap detil komunikasi sehingga pesan dapat diterima dengan baik.
f.       Apabila perlu, gunakan bahasa tulisan dan symbol.
g.      Apabila memungkinkan, hadirkan orang yang terbiasa berkomunikasi lisan dengan klien untuk menjadi mediator komunikasi.
















KESIMPULAN

Hubungan perawat klien yang terapeutik adalah pengalaman belajar  bersama dan pengalaman perbaikan emosi bagi klien. Dalam hal ini perawat memakai dirinya secara terapeutik dan memakai beberapa tehnik komunikasi agar perilaku klien berubah kearah yang positif seoptimal mungkin.

Agar perawat dapat berperan efektif dan terapeutik ia harus menganalisa dirinya : kesadaran diri, klarifikasi nilai, perasaan, kemampuan sebagai rool model. Seluruh perilaku dan pesan yang disampaikan perawat verbal atau non verbal hendaknya bertujuan terapeutik untulk klien.

Komunikasi pada klien gangguan sensoris, tehnik-tehnik yang digunakan sedikit berbeda, misalnya pada klien dengan gangguan penglihatan komunikasi sangat bergantung pada pendengaran dan sentuhan. Oleh karena itu komunikasi yang di lakukan harus mengoptimalkan fungsi pendengaran dan sentuhan karena fungsi penglihatan sedapat mungkin harus digantikan oleh informasi yang dapat di transper melalui ondera yang lain.

Pada klien dengan gangguan pendengaran, media komunikasi yang paling sering digunakan ialah media visual. Klien menangkap pesan bukan dari suara yang dikeluarkan orang lain, tetapi dengan mempelajari gerak bibir lawan bicaranya. Kondisi visual menjadi sangat penting bagi klien ini sehingga dalam melakukan komunikasi, upayakan supaya sikap dan gerakan anda dapat ditangkap oleh indra visualnya.

Berkomunikasi dengan klien dengan gangguan wicara memerlukan kesabaran supaya pesan dapat dikirim dan ditangkap dengan benar. Klien yang mengalami gangguan wicara umumnya telah belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat atau menggunakan tulisan dan gambar.

DAFTAR PUSTAKA



Tamsuri, Anas. Ns. S. Kep, Komunikasi Dalam Keperawatan. EGC ; Jakarta 2006

Purwanto, Heri, Komunikasi Untuk Perawat. EGC ; Jakarta 1994

Gail Wiscarz Stuart Sandra J. Sundeen, Keperawatan Jiwa. EGC ; Jakarta 1998

Kariyoso, Pengantar Komunikasi Bagi Siswa Perawat. EGC ; Jakarta 1994








Senin, 25 Februari 2013

Memoriam Umak (Almarhumah)

Palembang----Setelah berkutat hampir 6 bulan melawan penyakit Hepatitis, Ibunda kami, Cik Am meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya. Rabu, 9 Mei 2012 lalu, dia menghembuskan nafas terakhirnya di ruang rawat inap RS. Muhammad Yunus Bengkulu di usia 56 tahun. Sayangnya pada detik-detik kedatangan Malaikat utusan Allah SWT, Ibunda kami hanya ditemani oleh kedua buah hatinya yang belum berkeluarga yakni Muhammad Joviter Hussein dan Radikal Febriansyah. Sementara itu, kelima putra dan putrinya  yang lain tengah berada di luar kota dan kesibukan lain nya. Demikian juga dengan Ayahanda kami, ia tengah istirahat dirumah setelah melakukan perjalanan luar kota. 

Kabar duka itu datang dihari yang sama sekitar pukul 14.30. Kabar itu disuarakan melalui telepon adinda Viter. Sambil terisak, dia mengabari “Een, umak meninggal.” Kemudian telepon ditutup. Mendengar kabar itu, ada rasa tidak percaya lantaran tiga hari sebelum kepergiannya, saya sempat bertemu muka dan bercakap dengan ibunda kami di tengah perawatannya. Usaha untuk mencari kepastian dilakukan dengan menel dpon sejumlah nomer. Pertanyaan nya, sama, apa benar umak (panggilan sayang buat Ibunda) telah tiada ?. akhirnya teka-teki itu pun terjawab sudah, ibunda kami sudah mendahului kami untuk selama-lamanya. “iyo, een (nama kecil saya), umak la meninggal,” kata Ali Hanafia, kakak tertua kami melaui sambungan telepon.

Ketika kabar duka itu datang, saya tengah menjalankan tugas sebagai wartawan dikantor Gubernur Sumatera Selatan. Segera saya menghubungi istri saya yang juga sedang bekerja, dan memberitahukan kabar duka tersebut kepada sanak familly yang tinggal di Palembang. Setelah melakukan persiapan dan berkoordinasi dengan adik ke 5, Anina Marlini serta Suaminya Ferry, kami memutuskan untuk berangkat petang itu juga dengan kendaraan darat. Tepat pukul 17.00 kami berangkat menuju kota Bengkulu. Saat itu, seluruh keluarga turut serta yakni saya, istri, kedua anak kami, ibunda mertua serta Nina sekeluarga dan mertuanya. 

Berjalan dimalam hari bukan tanpa resiko, yang pertama adalah melawan rasa kantuk dibelakang kemudi, yang kedua adalah pelaku kejahatan yang bisa saja mengahambat jalannya kendaraan. Namun dengan modal keyakinan yang tinggi,  rasa takut dan kantuk itu dapat dihalau dengan alamiah. Alhamdulillah, sekitar pukul 05.30 keeseokan harinya, kami sekeluarga tiba di rumah duka di Jalan Bumi ayu raya kota Bengkulu.
Kedatangan kami disambut isak tangis keluarga yang sudah berkumpul dari sehari sebelumnya. Sementara itu di ruang tengah, tampak terbaring jasad umak yang telah ditutupi kain panjang. Sembari meneteskan air mata, kami mencoba untuk tegar melihat kenyataan itu sembari melantunkan ayat suci dan doa tulus agar niatan umak menuju Surganya Allah tanpa ada hambatan.

Handai taulan hantarkan ke pemakaman
Sekitar pukul 9 pagi pada hari Kamis, 10 Mei 2012, Ibunda siap dimandikan dan selanjutnya dikapani dan di shalatkan. Ke tujuh orang putra-putri almarhumah turut serta dalam membersihkan tubuh ibunda. Selesai dikapani, Jasad Almarhumah dibawah ke Masjid Al-Muukhlisin untuk dishalatkan. Shalat jenazah diimami oleh ayahanda Muhammad Rum dan diikuti oleh seluruh handai taulan dan warga yang tinggal disekitar Bumi Ayu.

Prosesi pemakaman berjalan lancar. Sekitar pukul 11.00 jasad almarhumah dimakamkan di tempat pemakaman umum Bumi Ayu yang berjarak sekitar 1 KM dari kediaman kami. Nisan umaktepat disebelah makam nenek atau ibunda Almarhumah yang telah meninggal sekitar 8 tahun silam. 

Almarhummah Cik Am Binti Syahrun meninggalkan seorang suami, Muhammad Rum dan Putra putrid masing-masing Ali Hanafia, Masita Ningsih, Parliza Hendrawan (penulis), Andi Kanser, Anina Marlina, Muhammad Joviter Hussein dan Radikal Febriansyah. Almarhummah juga meninggalkan 5 menantu yakni Devi, Lukman, Yenni, Eki dan Ferry. serta 9 orang cucu yaitu Meriska, Pitri, Chacha, Rani, Bee, Nabil, Nalisya, Putri  dan Reval. (PARLIZA HENDRAWAN – my brother)

Minggu, 24 Februari 2013

Sejarah Keperawatan



SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI DUNIA

A.SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI DUNIA

1.Zaman Purbakala
Manusia diciptakan memiliki naluri untuk merawat diri sendiri (tercermin pada seorang ibu). Harapan pada awal perkembangan keperawatan adalah perawat harus memiliki naluri keibuan (Mother Instinc). Dari masa Mother Instic kemudian bergeser ke zaman dimana orang masih percaya pada sesuatu tentang adanya kekuatan mistic yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Kepercayaan ini dikenal dengan nama Animisme. Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan karena kekuatan alam/pengaruh gaib seperti batu-batu, pohon-pohon besar dan gunung-gunung tinggi.
Kemudian dilanjutkan dengan kepercayaan pada dewa-dewa dimana pada masa itu mereka menganggap bahwa penyakit disebabkan karena kemarahan dewa, sehingga kuil-kuil didirikan sebagai tempat pemujaan dan orang yang sakit meminta kesembuhan di kuil tersebut. Setelah itu perkembangan keperawatan terus berubah dengan adanya Diakones & Philantrop, yaitu suatu kelompok wanita tua dan janda yang membantu pendeta dalam merawat orang sakit, sejak itu mulai berkembanglah ilmu keperawatan.
2. Zaman Keagamaan
Perkembangan keperawatan mulai bergeser kearah spiritual dimana seseorang yang sakit dapat disebabkan karena adanya dosa/kutukan Tuhan. Pusat perawatan adalah tempat-tempat ibadah sehingga pada waktu itu pemimpin agama disebut sebagai tabib yang mengobati pasien. Perawat dianggap sebagai budak dan yang hanya membantu dan bekerja atas perintah pemimpin agama.
3. Zaman Masehi
Keperawatan dimulai pada saat perkembangan agama Nasrani, dimana pada saat itu banyak terbentuk Diakones yaitu suatu organisasi wanita yang bertujuan untuk mengunjungiorang sakit sedangkan laki-laki diberi tugas dalam memberikan perawatan untuk mengubur bagi yang meninggal.
Pada zaman pemerintahan Lord-Constantine, ia mendirikan Xenodhoecim atau hospes yaitu tempat penampungan orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan. Pada zaman ini berdirilah Rumah Sakit di Roma yaitu Monastic Hospital.
4. Pertengahan abad VI Masehi
Pada abad ini keperawatan berkembang di Asia Barat Daya yaitu Timur Tengah, seiring dengan perkembangan agama Islam. Pengaruh agama Islam terhadap perkembangan keperawatan tidak lepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam.
Abad VII Masehi, di Jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan seperti Ilmu Pasti, Kimia, Hygiene dan obat-obatan. Pada masa ini mulai muncul prinsip-prinsip dasar keperawatan kesehatan seperti pentingnya kebersihan diri, kebersihan makanan dan lingkungan. Tokoh keperawatan yang terkenal dari Arab adalah Rufaidah.
5. Permulaan abad XVI
Pada masa ini, struktur dan orientasi masyarakat berubah dari agama menjadi kekuasaan, yaitu perang, eksplorasi kekayaan dan semangat kolonial. Gereja dan tempat-tempat ibadah ditutup, padahal tempat ini digunakan oleh orde-orde agama untuk merawat orang sakit. Dengan adanya perubahan ini, sebagai dampak negatifnya bagi keperawatan adalah berkurangnya tenaga perawat. Untuk memenuhi kurangnya perawat, bekas wanita tuna susila yang sudah bertobat bekerja sebagai perawat. Dampak positif pada masa ini, dengan adanya perang salib, untuk menolong korban perang dibutuhkan banyak tenaga sukarela sebagai perawat, mereka terdiri dari orde-orde agama, wanita-wanita yang mengikuti suami berperang dan tentara (pria) yang bertugas rangkap sebagai perawat.
Pengaruh perang salib terhadap keperawatan :
a. Mulai dikenal konsep P3K
b. Perawat mulai dibutuhkan dalam ketentaraan sehingga timbul peluang kerja bagi perawat dibidang sosial.
Ada 3 Rumah Sakit yang berperan besar pada masa itu terhadap perkembangan keperawatan :
1. Hotel Dieu di Lion
Awalnya pekerjaan perawat dilakukan oleh bekas WTS yang telah bertobat. Selanjutnya pekerjaan perawat digantikan oleh perawat terdidik melalui pendidikan keperawatan di RS ini.
2. Hotel Dieu di Paris
Pekerjaan perawat dilakukan oleh orde agama. Sesudah Revolusi Perancis, orde agama dihapuskan dan pekerjaan perawat dilakukan oleh orang-orang bebas. Pelopor perawat di RS ini adalah Genevieve Bouquet.
3. ST. Thomas Hospital (1123 M)
Pelopor perawat di RS ini adalah Florence Nightingale (1820). Pada masa ini perawat mulai dipercaya banyak orang. Pada saat perang Crimean War, Florence ditunjuk oleh negara Inggris untuk menata asuhan keperawatan di RS Militer di Turki. Hal tersebut memberi peluang bagi Florence untuk meraih prestasi dan sekaligus meningkatkan status perawat. Kemudian Florence dijuluki dengan nama “ The Lady of the Lamp”.
6. Perkembangan keperawatan di Inggris
Florence kembali ke Inggris setelah perang Crimean. Pada tahun 1840 Inggris mengalami perubahan besar dimana sekolah-sekolah perawat mulai bermunculan dan Florence membuka sekolah perawat modern. Konsep pendidikan Florence ini mempengaruhi pendidikan keperawatan di dunia.
Kontribusi Florence bagi perkembangan keperawatan a. l :
a. Nutrisi merupakan bagian terpenting dari asuhan keperawatan.
b. Okupasi dan rekreasi merupakan terapi bagi orang sakit
c. Manajemen RS
d. Mengembangkan pendidikan keperawatan
e. Perawatan berdiri sendiri berbeda dengan profesi kedokteran
f. Pendidikan berlanjut bagi perawat.

B.SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA
Ø  PERKEMBANGAN KEPERAWATAN SEBELUM KEMERDEKAAN

1. Zaman penjajahan belanda
Pada masa ini perawat berasal dari penduduk pribumi yang disebut VELPLEGEK dengan sebutan zieken oppaser sebagai penjaga rumah sakit. usaha pemerintahan Belanda dibidang kesehatan adalah :

1. Mendirikan rumah sakit I Binnen Hospital di Jakarta pada tahun 1799

 2 .Mendirikan rumah sakit II Butten Hospital

3. Membentuk dinas kesehatan tentara (military gezond herds dients)

4. Membentu Dinas Kesehatan Rakyat (Burgerlijke gezandherds dienst)

2.       Zaman penjajahan Inggris(1812-1816)

Gubernur jendral Rafles sangat memperhatikan rakyat semboyan :Kesehatan adalah milik manusia. Usaha-usahanya dibidang kesehatan :

1. Pencacaran secara umum

2.Membenahi cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa

3.Memperhatikan kesehatan pada para tawanan

3. Zaman penjajahan Jepang (1942 – 1945)

Menyebabkan perkembangan keperawatan mengalami kemunduran yang juga merupakan zaman kegelapan dunia keperawatan di Indonesia. Kemunduran-kemunduran ini terlihat pada

1. pekerjaan perawat dikerjakan oleh orang-orang yang tidak terdidik,

2.Pimpinan RS diambil alih oleh orang-orang jepang,

3.Obat-obatan sangat kurang

4.Wabah penyakit terjadi dimana-mana.


Ø  SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN PADA MASA KEMERDEKAAN
Usaha-usaha dibidang kesehatan tahun 1949 mulai dibangun rumah sakit dan balai kesehatan. Tahun 1952 mulai didirikan sekolah perawat yaitu sekolah guru perawat dan sekolah perawat setingkat SLTP tahun 1962 mulai didirikan pendidikan keperawatan professional.

Ø  SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN SETELAH KEMERDEKAAN
a.Periode 1945 -1962
Tahun 1945 s/d 1950 merupakan masa transisi pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perkembangan keperawatan pun masih jalan di tempat. Ini dapat dilihat dari pengembanagan tenaga keperawatan yang masih menggunakan system pendidikan yang telah ada, yaitu perawat lulusan pendidikan Belanda (MULO + 3 tahun pendidikan), untuk ijazah A (perawat umum) dan ijazah B untuk perawat jiwa. Terdapat pula pendidikan perawat dengan dasar (SR + 4 tahun pendidikan) yang lulusannya disebut mantri juru rawat.
Baru kemudian tahun 1953 dibuka sekolah pengatur rawat dengan tujuan menghasilkan tenaga perawat yang lebih berkualitas. Pada tahun 1955, dibuka Sekolah Djuru Kesehatan (SDK) dengan pendidikan SR ditambah pendidikan satu tahun dan sekolah pengamat kesehatan sebagai pengembangan SDK, ditambah pendidikan lagi selama satu tahun.
Pada tahun 1962 telah dibuka Akademi Keperawatan dengan pendidikan dasar umum SMA yang bertempat di Jakarta, di RS. Cipto Mangunkusumo. Sekarang dikenal dengan nama Akper Depkes di Jl. Kimia No. 17 Jakarta Pusat.
Walupun sudah ada pendidikan tinggi namun pola pengembangan pendidikan keperawatan belum tampak, ini ditinjau dari kelembagaan organisasi di rumah sakit. Kemudian juga ditinjau dari masih berorientasinya perawat pada keterampilan tindakan dan belum dikenalkannya konsep kurikulum keperawatan. Konsep-konsep perkembangan keperawatan belum jelas, dan bentuk kegiatan keperawatan masih berorientasi pada keterampilan prosedural yang lebih dikemas dengan perpanjangan dari pelayanan medis.


b.Periode 1963-1983
Periode ini masih belum banyak perkembangan dalam bidang keperawatan. Pada tahun 1972 tepatnya tanggal 17 April lahirlah organisasi profesi dengan nama Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) di Jakarta. Ini merupakan suatau langkah maju dalam perkembangan keperawatan. Namun baru mulai tahun 1983 organisasi profesi ini terlibat penuh dalam pembenahan keperawatan melalui kerjasama dengan CHS, Depkes dan organisasi lainnya.
c.Periode 1984 sampai dengan sekarang
Pada tahun 1985, resmi dibukanya pendidikan S1 keperawatan dengan nama Progran Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesi di Jakarta. Sejak saat itulah PSIK-UI telah menghasilkan tenaga keperawatan tingkat sarjana sehingga pada tahun 1992 dikeluarkannya UU No. 23 tentang kesehatan yang mengakui tenaga keperawatan sebagai profesi.
Pada tahun 1996 dibukanya PSIK di Universitas Padjajaran Bandung. Pada tahun 1997 PSIK-UI berubah statusnya menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK-UI), dan untuk meningkatkan kualitas lulusan, pada tahun 1998 kurikulum pendidikan Ners disyahkan dan digunakan. Selanjutnya juga pada tahun 1999 kurikulum D-III keperawatan mulai dibenahi dan mulai digunakan pada tahun 2000 sampai dengan sekarang.
d.Perkembangan Keperawatan Jiwa di Indonesia
Tahun 1800 pasien jiwa sudah dikumpulkan di bangsal-bangsal dan perawatannya bersifat penjagaan. RS jiwa didirikan pertama kali tahun 1875 di Cilandak Bogor dnegan kapasitas 400 orang. Rumah sakit jiwa kedua di Lawang tahun 1894 dengan kapasitas 3300 pasien. Rumah sakit jiwa ketiga RSJ Prof. Dr. Soeroyo di magelang tahun 1923 dengan 1400 pasien.Pendidikan keperawatan jiwa baru dibuka bulan September 1940 di bogor dengan kursus. Saat ini perawatan jiwa diselenggarakan secara modern. Dibangsal-bangsal, pengobatan dengan shock terapi, menggunakan obat-obat tidur dnegan musik, olah raga dan rekreasi.
Konteks keperawatan sendiri banyak dipengaruhi oleh sejarah keperawatan dalam Islam, budaya dan kepercayaan di Arab keyakinan akan kesehatan dari sudut pandang Islam (Islamic health belief) dan nilai-nilai profesi yang diperoleh dari pendidikan keperawatan. Tidak seperti pandangan keperawatan di Negara barat, keyakinan akan spiritual Islam tercermin dalam budaya mereka.
          Di Indonesia mungkin hal serupa juga terjadi tinggal bagaimana keperawatan dan islam berkembang sejalan dalam harmoni percepatan tuntutan asuhan keperawatan, kompleksitas penyakit, perkembangan teknologi kesehatan dan informatika kesehatan agar tetap mengenang dan menteladani sejarah perkembangan keperawatan dimulai oleh Rufaidah binti Sa'ad (Diposkan oleh keprawatan asian)



Keperawatan Islam
Selama ini pula perawat Indonesia khususnya lebih mengenal Florence Nightingale sebagai tokoh keperawatan, yang mungkin saja lebih dikarenakan konsep keperawatan modern yang mengadopsi litelature barat. Florence Nightingale adalah pelopor perawat modern. Ia dikenali dengan nama The Lady With The Lamp dalam bahasa Inggris yang berarti “Sang Wanita dengan Lampu”. Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris.
Kegiatan pelayanan keperawatan berkualiatas telah dimulai sejak seorang perawat muslim pertama yaitu Siti Rufaidah pada jaman Nabi Muhammad S.A.W, yang selalu berusaha memberikan pelayanan terbaiknya bagi yang membutuhkan tanpa membedakan apakah kliennya kaya atau miskin. Ada pula yang  mengenal sebagai Rufaidah binti Sa’ad/Rufaidah Al-Asalmiya dimana dalam beberapa catatan publikasi menyebutkan Rufaidah Al-Asalmiya, yang memulai praktek keperawatan dimasa Nabi Muhammad SAW adalah perawat pertama muslim. Sementara sejarah perawat di Eropa dan Amerika mengenal Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan modern, Negara di timur tengah memberikan status ini kepada Rufaidah, seorang perawat muslim. Talenta perjuangan dan kepahlawanan Rufaidah secara verbal diteruskan turun temurun dari generasi ke generasi di perawat Islam khususnya di Arab Saudi dan diteruskan ke generasi modern perawat di Saudi dan Timur Tengah.
Rufaidah adalah seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain.
Rufaidah binti Sa’ad memiiki nama lengkap Rufaidah binti Sa’ad Al Bani Aslam Al Khazraj yang tinggal di Madinah. Dia lahir di Yathrib dan termasuk kaum Ansar. Ayahnya merupakan seorang dokter, dan ia memelajari ilmu keperawatan saat bekerja membantu ayahnya.
Ketika kota Madinah berkembang, Rufaidah mengabdikan diri merawat kaum muslim yang sakit dan membangun tenda di luar Mesjid Nabawi saat damai (ketika tidak sedang perang).
Dan ketika perang Badr, Uhud, Khandaq dan perang Khaibar, dia menjadi sukarelawan dan merawat korban yang terluka akibat perang. Juga mendirikan rumah sakit lapangan sehingga terkenal saat perang. Nabi Muhammad sendiri memerintahkan korban yang terluka dirawat olehnya.
Rufaidah juga melatih beberapa kelompok wanita untuk menjadi perawat, dan dalam perang Khaibr mereka meminta izin Nabi Muhammad S.A.W., untuk ikut di baris belakang pertempuran untuk merawat mereka yang terluka, dan Rasulullah mengizinkannya.
Kontribusi Rufaidah tidak hanya merawat mereka yang terluka akibat perang. Namun juga terlibat dalam aktivitas sosial di komuniti. Dia memberikan perhatian kepada setiap muslim, miskin, anak yatim, bahkan penderita cacat mental.
Rufaidah juga digambarkan sebagai pemimpin dan pencetus Sekolah Keperawatan pertama di dunia Islam. Dia juga merupakan penyokong advokasi pencegahan penyakit (preventive care) dan menyebarkan pentingnya penyuluhan (health education).
Sejarah Islam juga mencatat beberapa nama yang bekerjasama dengan Rufaidah, seperti:
  • Ummu Ammara
  • Aminah
  • Ummu Ayman
  • Safiyat
  • Ummu Sulaiman
  • Hindun
Ada juga beberapa muslim yang terkenal sebagai perawat adalah:
  • Ku’ayibat
  • Aminah binti Abi Qays Al Ghifari
  • Ummu Atiyah Al Ansariyat
  • Nusaibat binti Ka’ab Al Maziniyat
Ummu Ammara dikenal juga sebagai Nusaibat binti Ka’ab bin Maziniyat. Dia adalah ibu dari Abdullah dan Habi, anak dari Bani Zayd bin Asim. Nusaibat dibantu suami dan anaknya dalam bidang keperawatan. Dia berpartisipasi dalam Perjanjian Aqabat dan Perjanjian Ridhwan juga andil dalam Perang Uhud dan perang melawan Musailamah di Yamamah bersama anak dan suaminya. Dia terluka 12 kali, tangannya terputus dan dia meninggal dengan luka-lukanya. Dia juga terlibat dalam Perang Uhud, merawat korban yang terluka dan menyuplai air juga digambarkan berperang menggunakan pedang untuk membela Nabi.
Dalam bidang lain, tersebutlah nama Asy-Syifa’ binti Al-Harits. Asy-Syifa’ termasuk wanita cerdas yang dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis serta ahli ruqyah (pengobatan) sebelum datangnya Islam. Sesudah memeluk Islam, dia tetap memberikan pengajaran kepada kaum perempuan. Oleh karena itu, dia disebut sebagai guru (ulama) wanita pertama dalam Islam. Di antara muridnya bernama Hafshah binti Umar bin Khattab. Kesibukan mengurus suami dan mendidik seorang anak tidak membuat Asy-Syifa’ lupa untuk menuntut ilmu hadis kepada Rasulullah, kemudian menyebarkannya sembari menyelipkan nasehat-nasehat bagi umat Islam. Bahkan, Khalifah Umar bin Khattab sering meminta pendapat Asy-Syifa’ tentang urusan agama dan dunia.
Lain Asy-Syifa’ lain Ummu Hani’. Selain pandai berdiplomasi, Ummu Hani’ binti Abi Thalib Al-Hasyimiyyah kesohor sebagai penunggang unta yang hebat, periwayat dan pengajar hadis hingga akhir hidupnya. Ummu Hani’ mengerti betul tugasnya selaku istri yang mengagungkan hak-hak suami dan mengasuh keempat anaknya. Baginya, mengurus mereka membutuhkan perhatian yang menyita waktu banyak. Karena itu, dia tak ingin menyia-nyiakan satu pun dari keduanya, hingga dia mendapatkan pujian yang begitu mulia dari Rasulullah sebagai perempuan penyayang keluarga. Pada saat yang sama, Ummu Hani’ pun tidak lupa berperan di tengah masyarakat.
Jasa Hafshah binti Umar bin Khattab juga tidak boleh diremehkan. Dia memiliki keberanian, kepribadian kuat dan ucapannya tegas. Kelebihan lainnya berupa kepandaian dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki kaum perempuan. Bahkan, dia satu-satunya istri Rasulullah yang pandai membaca dan menulis. Atas dasar hal tersebut, Hafshah sebagai orang yang pertama kali diperintahkan oleh khalifah Abu Bakar Siddiq untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Quran yang masih berserakan di banyak tempat pada lembaran kulit, tulang dan pelepah kurma sekaligus menyimpan dan memeliharanya. Mushaf asli Al-Quran itu berada di rumah Hafshah hingga dia meninggal dunia.
Ketika Rasulullah mengalami rintangan dan gangguan dari kaum kafir Quraisy, maka Khadijah Binti Khuwailid selalu berada di sampingnya untuk menenangkan sekaligus menyenangkan hatinya yang gundah. Khadijah juga mendukung perjuangan suaminya dengan sepenuh jiwa raga dan menyerahkan seluruh harta benda yang dimilikinya. Sebagai pebisnis muslimah sukses yang dermawan, wanita terbaik di dunia ini memang setia, taat dan sayang kepada suami dan anak-anaknya. Khadijah selalu menyiapkan makanan, minuman dan segala keperluan Rasulullah serta mendidik putra putrinya dengan teladan dan penuh kesadaran.
Kisah lebih heroik terjadi pada Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah bersama suami dan kedua putranya ikut dalam Perang Uhud yang berlangsung dahsyat. Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, Ummu ‘Umarah justru mendekati Rasulullah, bermaksud melindungi di depannya dengan menggunakan pedang. Namun, Ummu ‘Umarah beberapa kali terkena sabetan pedang yaang ditebarkan pasukan musuh. Luka yang paling besar terdapat di pundaknya, karena ditikam Ibnu Qami’ah, hingga dia harus mengobati luka itu setahun lamanya. Pada masa khalifah Abu Bakar Siddiq, Ummu ‘Umarah juga ikut memerangi Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku nabi. Di sinilah Ummu ‘Umarah terpotong tangannya dan kehilangan seorang putranya yang terbunuh.