Minggu, 24 Februari 2013

Sejarah Keperawatan



SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI DUNIA

A.SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI DUNIA

1.Zaman Purbakala
Manusia diciptakan memiliki naluri untuk merawat diri sendiri (tercermin pada seorang ibu). Harapan pada awal perkembangan keperawatan adalah perawat harus memiliki naluri keibuan (Mother Instinc). Dari masa Mother Instic kemudian bergeser ke zaman dimana orang masih percaya pada sesuatu tentang adanya kekuatan mistic yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Kepercayaan ini dikenal dengan nama Animisme. Mereka meyakini bahwa sakitnya seseorang disebabkan karena kekuatan alam/pengaruh gaib seperti batu-batu, pohon-pohon besar dan gunung-gunung tinggi.
Kemudian dilanjutkan dengan kepercayaan pada dewa-dewa dimana pada masa itu mereka menganggap bahwa penyakit disebabkan karena kemarahan dewa, sehingga kuil-kuil didirikan sebagai tempat pemujaan dan orang yang sakit meminta kesembuhan di kuil tersebut. Setelah itu perkembangan keperawatan terus berubah dengan adanya Diakones & Philantrop, yaitu suatu kelompok wanita tua dan janda yang membantu pendeta dalam merawat orang sakit, sejak itu mulai berkembanglah ilmu keperawatan.
2. Zaman Keagamaan
Perkembangan keperawatan mulai bergeser kearah spiritual dimana seseorang yang sakit dapat disebabkan karena adanya dosa/kutukan Tuhan. Pusat perawatan adalah tempat-tempat ibadah sehingga pada waktu itu pemimpin agama disebut sebagai tabib yang mengobati pasien. Perawat dianggap sebagai budak dan yang hanya membantu dan bekerja atas perintah pemimpin agama.
3. Zaman Masehi
Keperawatan dimulai pada saat perkembangan agama Nasrani, dimana pada saat itu banyak terbentuk Diakones yaitu suatu organisasi wanita yang bertujuan untuk mengunjungiorang sakit sedangkan laki-laki diberi tugas dalam memberikan perawatan untuk mengubur bagi yang meninggal.
Pada zaman pemerintahan Lord-Constantine, ia mendirikan Xenodhoecim atau hospes yaitu tempat penampungan orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan. Pada zaman ini berdirilah Rumah Sakit di Roma yaitu Monastic Hospital.
4. Pertengahan abad VI Masehi
Pada abad ini keperawatan berkembang di Asia Barat Daya yaitu Timur Tengah, seiring dengan perkembangan agama Islam. Pengaruh agama Islam terhadap perkembangan keperawatan tidak lepas dari keberhasilan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam.
Abad VII Masehi, di Jazirah Arab berkembang pesat ilmu pengetahuan seperti Ilmu Pasti, Kimia, Hygiene dan obat-obatan. Pada masa ini mulai muncul prinsip-prinsip dasar keperawatan kesehatan seperti pentingnya kebersihan diri, kebersihan makanan dan lingkungan. Tokoh keperawatan yang terkenal dari Arab adalah Rufaidah.
5. Permulaan abad XVI
Pada masa ini, struktur dan orientasi masyarakat berubah dari agama menjadi kekuasaan, yaitu perang, eksplorasi kekayaan dan semangat kolonial. Gereja dan tempat-tempat ibadah ditutup, padahal tempat ini digunakan oleh orde-orde agama untuk merawat orang sakit. Dengan adanya perubahan ini, sebagai dampak negatifnya bagi keperawatan adalah berkurangnya tenaga perawat. Untuk memenuhi kurangnya perawat, bekas wanita tuna susila yang sudah bertobat bekerja sebagai perawat. Dampak positif pada masa ini, dengan adanya perang salib, untuk menolong korban perang dibutuhkan banyak tenaga sukarela sebagai perawat, mereka terdiri dari orde-orde agama, wanita-wanita yang mengikuti suami berperang dan tentara (pria) yang bertugas rangkap sebagai perawat.
Pengaruh perang salib terhadap keperawatan :
a. Mulai dikenal konsep P3K
b. Perawat mulai dibutuhkan dalam ketentaraan sehingga timbul peluang kerja bagi perawat dibidang sosial.
Ada 3 Rumah Sakit yang berperan besar pada masa itu terhadap perkembangan keperawatan :
1. Hotel Dieu di Lion
Awalnya pekerjaan perawat dilakukan oleh bekas WTS yang telah bertobat. Selanjutnya pekerjaan perawat digantikan oleh perawat terdidik melalui pendidikan keperawatan di RS ini.
2. Hotel Dieu di Paris
Pekerjaan perawat dilakukan oleh orde agama. Sesudah Revolusi Perancis, orde agama dihapuskan dan pekerjaan perawat dilakukan oleh orang-orang bebas. Pelopor perawat di RS ini adalah Genevieve Bouquet.
3. ST. Thomas Hospital (1123 M)
Pelopor perawat di RS ini adalah Florence Nightingale (1820). Pada masa ini perawat mulai dipercaya banyak orang. Pada saat perang Crimean War, Florence ditunjuk oleh negara Inggris untuk menata asuhan keperawatan di RS Militer di Turki. Hal tersebut memberi peluang bagi Florence untuk meraih prestasi dan sekaligus meningkatkan status perawat. Kemudian Florence dijuluki dengan nama “ The Lady of the Lamp”.
6. Perkembangan keperawatan di Inggris
Florence kembali ke Inggris setelah perang Crimean. Pada tahun 1840 Inggris mengalami perubahan besar dimana sekolah-sekolah perawat mulai bermunculan dan Florence membuka sekolah perawat modern. Konsep pendidikan Florence ini mempengaruhi pendidikan keperawatan di dunia.
Kontribusi Florence bagi perkembangan keperawatan a. l :
a. Nutrisi merupakan bagian terpenting dari asuhan keperawatan.
b. Okupasi dan rekreasi merupakan terapi bagi orang sakit
c. Manajemen RS
d. Mengembangkan pendidikan keperawatan
e. Perawatan berdiri sendiri berbeda dengan profesi kedokteran
f. Pendidikan berlanjut bagi perawat.

B.SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN DI INDONESIA
Ø  PERKEMBANGAN KEPERAWATAN SEBELUM KEMERDEKAAN

1. Zaman penjajahan belanda
Pada masa ini perawat berasal dari penduduk pribumi yang disebut VELPLEGEK dengan sebutan zieken oppaser sebagai penjaga rumah sakit. usaha pemerintahan Belanda dibidang kesehatan adalah :

1. Mendirikan rumah sakit I Binnen Hospital di Jakarta pada tahun 1799

 2 .Mendirikan rumah sakit II Butten Hospital

3. Membentuk dinas kesehatan tentara (military gezond herds dients)

4. Membentu Dinas Kesehatan Rakyat (Burgerlijke gezandherds dienst)

2.       Zaman penjajahan Inggris(1812-1816)

Gubernur jendral Rafles sangat memperhatikan rakyat semboyan :Kesehatan adalah milik manusia. Usaha-usahanya dibidang kesehatan :

1. Pencacaran secara umum

2.Membenahi cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa

3.Memperhatikan kesehatan pada para tawanan

3. Zaman penjajahan Jepang (1942 – 1945)

Menyebabkan perkembangan keperawatan mengalami kemunduran yang juga merupakan zaman kegelapan dunia keperawatan di Indonesia. Kemunduran-kemunduran ini terlihat pada

1. pekerjaan perawat dikerjakan oleh orang-orang yang tidak terdidik,

2.Pimpinan RS diambil alih oleh orang-orang jepang,

3.Obat-obatan sangat kurang

4.Wabah penyakit terjadi dimana-mana.


Ø  SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN PADA MASA KEMERDEKAAN
Usaha-usaha dibidang kesehatan tahun 1949 mulai dibangun rumah sakit dan balai kesehatan. Tahun 1952 mulai didirikan sekolah perawat yaitu sekolah guru perawat dan sekolah perawat setingkat SLTP tahun 1962 mulai didirikan pendidikan keperawatan professional.

Ø  SEJARAH PERKEMBANGAN KEPERAWATAN SETELAH KEMERDEKAAN
a.Periode 1945 -1962
Tahun 1945 s/d 1950 merupakan masa transisi pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perkembangan keperawatan pun masih jalan di tempat. Ini dapat dilihat dari pengembanagan tenaga keperawatan yang masih menggunakan system pendidikan yang telah ada, yaitu perawat lulusan pendidikan Belanda (MULO + 3 tahun pendidikan), untuk ijazah A (perawat umum) dan ijazah B untuk perawat jiwa. Terdapat pula pendidikan perawat dengan dasar (SR + 4 tahun pendidikan) yang lulusannya disebut mantri juru rawat.
Baru kemudian tahun 1953 dibuka sekolah pengatur rawat dengan tujuan menghasilkan tenaga perawat yang lebih berkualitas. Pada tahun 1955, dibuka Sekolah Djuru Kesehatan (SDK) dengan pendidikan SR ditambah pendidikan satu tahun dan sekolah pengamat kesehatan sebagai pengembangan SDK, ditambah pendidikan lagi selama satu tahun.
Pada tahun 1962 telah dibuka Akademi Keperawatan dengan pendidikan dasar umum SMA yang bertempat di Jakarta, di RS. Cipto Mangunkusumo. Sekarang dikenal dengan nama Akper Depkes di Jl. Kimia No. 17 Jakarta Pusat.
Walupun sudah ada pendidikan tinggi namun pola pengembangan pendidikan keperawatan belum tampak, ini ditinjau dari kelembagaan organisasi di rumah sakit. Kemudian juga ditinjau dari masih berorientasinya perawat pada keterampilan tindakan dan belum dikenalkannya konsep kurikulum keperawatan. Konsep-konsep perkembangan keperawatan belum jelas, dan bentuk kegiatan keperawatan masih berorientasi pada keterampilan prosedural yang lebih dikemas dengan perpanjangan dari pelayanan medis.


b.Periode 1963-1983
Periode ini masih belum banyak perkembangan dalam bidang keperawatan. Pada tahun 1972 tepatnya tanggal 17 April lahirlah organisasi profesi dengan nama Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) di Jakarta. Ini merupakan suatau langkah maju dalam perkembangan keperawatan. Namun baru mulai tahun 1983 organisasi profesi ini terlibat penuh dalam pembenahan keperawatan melalui kerjasama dengan CHS, Depkes dan organisasi lainnya.
c.Periode 1984 sampai dengan sekarang
Pada tahun 1985, resmi dibukanya pendidikan S1 keperawatan dengan nama Progran Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesi di Jakarta. Sejak saat itulah PSIK-UI telah menghasilkan tenaga keperawatan tingkat sarjana sehingga pada tahun 1992 dikeluarkannya UU No. 23 tentang kesehatan yang mengakui tenaga keperawatan sebagai profesi.
Pada tahun 1996 dibukanya PSIK di Universitas Padjajaran Bandung. Pada tahun 1997 PSIK-UI berubah statusnya menjadi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK-UI), dan untuk meningkatkan kualitas lulusan, pada tahun 1998 kurikulum pendidikan Ners disyahkan dan digunakan. Selanjutnya juga pada tahun 1999 kurikulum D-III keperawatan mulai dibenahi dan mulai digunakan pada tahun 2000 sampai dengan sekarang.
d.Perkembangan Keperawatan Jiwa di Indonesia
Tahun 1800 pasien jiwa sudah dikumpulkan di bangsal-bangsal dan perawatannya bersifat penjagaan. RS jiwa didirikan pertama kali tahun 1875 di Cilandak Bogor dnegan kapasitas 400 orang. Rumah sakit jiwa kedua di Lawang tahun 1894 dengan kapasitas 3300 pasien. Rumah sakit jiwa ketiga RSJ Prof. Dr. Soeroyo di magelang tahun 1923 dengan 1400 pasien.Pendidikan keperawatan jiwa baru dibuka bulan September 1940 di bogor dengan kursus. Saat ini perawatan jiwa diselenggarakan secara modern. Dibangsal-bangsal, pengobatan dengan shock terapi, menggunakan obat-obat tidur dnegan musik, olah raga dan rekreasi.
Konteks keperawatan sendiri banyak dipengaruhi oleh sejarah keperawatan dalam Islam, budaya dan kepercayaan di Arab keyakinan akan kesehatan dari sudut pandang Islam (Islamic health belief) dan nilai-nilai profesi yang diperoleh dari pendidikan keperawatan. Tidak seperti pandangan keperawatan di Negara barat, keyakinan akan spiritual Islam tercermin dalam budaya mereka.
          Di Indonesia mungkin hal serupa juga terjadi tinggal bagaimana keperawatan dan islam berkembang sejalan dalam harmoni percepatan tuntutan asuhan keperawatan, kompleksitas penyakit, perkembangan teknologi kesehatan dan informatika kesehatan agar tetap mengenang dan menteladani sejarah perkembangan keperawatan dimulai oleh Rufaidah binti Sa'ad (Diposkan oleh keprawatan asian)



Keperawatan Islam
Selama ini pula perawat Indonesia khususnya lebih mengenal Florence Nightingale sebagai tokoh keperawatan, yang mungkin saja lebih dikarenakan konsep keperawatan modern yang mengadopsi litelature barat. Florence Nightingale adalah pelopor perawat modern. Ia dikenali dengan nama The Lady With The Lamp dalam bahasa Inggris yang berarti “Sang Wanita dengan Lampu”. Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris.
Kegiatan pelayanan keperawatan berkualiatas telah dimulai sejak seorang perawat muslim pertama yaitu Siti Rufaidah pada jaman Nabi Muhammad S.A.W, yang selalu berusaha memberikan pelayanan terbaiknya bagi yang membutuhkan tanpa membedakan apakah kliennya kaya atau miskin. Ada pula yang  mengenal sebagai Rufaidah binti Sa’ad/Rufaidah Al-Asalmiya dimana dalam beberapa catatan publikasi menyebutkan Rufaidah Al-Asalmiya, yang memulai praktek keperawatan dimasa Nabi Muhammad SAW adalah perawat pertama muslim. Sementara sejarah perawat di Eropa dan Amerika mengenal Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan modern, Negara di timur tengah memberikan status ini kepada Rufaidah, seorang perawat muslim. Talenta perjuangan dan kepahlawanan Rufaidah secara verbal diteruskan turun temurun dari generasi ke generasi di perawat Islam khususnya di Arab Saudi dan diteruskan ke generasi modern perawat di Saudi dan Timur Tengah.
Rufaidah adalah seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain.
Rufaidah binti Sa’ad memiiki nama lengkap Rufaidah binti Sa’ad Al Bani Aslam Al Khazraj yang tinggal di Madinah. Dia lahir di Yathrib dan termasuk kaum Ansar. Ayahnya merupakan seorang dokter, dan ia memelajari ilmu keperawatan saat bekerja membantu ayahnya.
Ketika kota Madinah berkembang, Rufaidah mengabdikan diri merawat kaum muslim yang sakit dan membangun tenda di luar Mesjid Nabawi saat damai (ketika tidak sedang perang).
Dan ketika perang Badr, Uhud, Khandaq dan perang Khaibar, dia menjadi sukarelawan dan merawat korban yang terluka akibat perang. Juga mendirikan rumah sakit lapangan sehingga terkenal saat perang. Nabi Muhammad sendiri memerintahkan korban yang terluka dirawat olehnya.
Rufaidah juga melatih beberapa kelompok wanita untuk menjadi perawat, dan dalam perang Khaibr mereka meminta izin Nabi Muhammad S.A.W., untuk ikut di baris belakang pertempuran untuk merawat mereka yang terluka, dan Rasulullah mengizinkannya.
Kontribusi Rufaidah tidak hanya merawat mereka yang terluka akibat perang. Namun juga terlibat dalam aktivitas sosial di komuniti. Dia memberikan perhatian kepada setiap muslim, miskin, anak yatim, bahkan penderita cacat mental.
Rufaidah juga digambarkan sebagai pemimpin dan pencetus Sekolah Keperawatan pertama di dunia Islam. Dia juga merupakan penyokong advokasi pencegahan penyakit (preventive care) dan menyebarkan pentingnya penyuluhan (health education).
Sejarah Islam juga mencatat beberapa nama yang bekerjasama dengan Rufaidah, seperti:
  • Ummu Ammara
  • Aminah
  • Ummu Ayman
  • Safiyat
  • Ummu Sulaiman
  • Hindun
Ada juga beberapa muslim yang terkenal sebagai perawat adalah:
  • Ku’ayibat
  • Aminah binti Abi Qays Al Ghifari
  • Ummu Atiyah Al Ansariyat
  • Nusaibat binti Ka’ab Al Maziniyat
Ummu Ammara dikenal juga sebagai Nusaibat binti Ka’ab bin Maziniyat. Dia adalah ibu dari Abdullah dan Habi, anak dari Bani Zayd bin Asim. Nusaibat dibantu suami dan anaknya dalam bidang keperawatan. Dia berpartisipasi dalam Perjanjian Aqabat dan Perjanjian Ridhwan juga andil dalam Perang Uhud dan perang melawan Musailamah di Yamamah bersama anak dan suaminya. Dia terluka 12 kali, tangannya terputus dan dia meninggal dengan luka-lukanya. Dia juga terlibat dalam Perang Uhud, merawat korban yang terluka dan menyuplai air juga digambarkan berperang menggunakan pedang untuk membela Nabi.
Dalam bidang lain, tersebutlah nama Asy-Syifa’ binti Al-Harits. Asy-Syifa’ termasuk wanita cerdas yang dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis serta ahli ruqyah (pengobatan) sebelum datangnya Islam. Sesudah memeluk Islam, dia tetap memberikan pengajaran kepada kaum perempuan. Oleh karena itu, dia disebut sebagai guru (ulama) wanita pertama dalam Islam. Di antara muridnya bernama Hafshah binti Umar bin Khattab. Kesibukan mengurus suami dan mendidik seorang anak tidak membuat Asy-Syifa’ lupa untuk menuntut ilmu hadis kepada Rasulullah, kemudian menyebarkannya sembari menyelipkan nasehat-nasehat bagi umat Islam. Bahkan, Khalifah Umar bin Khattab sering meminta pendapat Asy-Syifa’ tentang urusan agama dan dunia.
Lain Asy-Syifa’ lain Ummu Hani’. Selain pandai berdiplomasi, Ummu Hani’ binti Abi Thalib Al-Hasyimiyyah kesohor sebagai penunggang unta yang hebat, periwayat dan pengajar hadis hingga akhir hidupnya. Ummu Hani’ mengerti betul tugasnya selaku istri yang mengagungkan hak-hak suami dan mengasuh keempat anaknya. Baginya, mengurus mereka membutuhkan perhatian yang menyita waktu banyak. Karena itu, dia tak ingin menyia-nyiakan satu pun dari keduanya, hingga dia mendapatkan pujian yang begitu mulia dari Rasulullah sebagai perempuan penyayang keluarga. Pada saat yang sama, Ummu Hani’ pun tidak lupa berperan di tengah masyarakat.
Jasa Hafshah binti Umar bin Khattab juga tidak boleh diremehkan. Dia memiliki keberanian, kepribadian kuat dan ucapannya tegas. Kelebihan lainnya berupa kepandaian dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki kaum perempuan. Bahkan, dia satu-satunya istri Rasulullah yang pandai membaca dan menulis. Atas dasar hal tersebut, Hafshah sebagai orang yang pertama kali diperintahkan oleh khalifah Abu Bakar Siddiq untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Quran yang masih berserakan di banyak tempat pada lembaran kulit, tulang dan pelepah kurma sekaligus menyimpan dan memeliharanya. Mushaf asli Al-Quran itu berada di rumah Hafshah hingga dia meninggal dunia.
Ketika Rasulullah mengalami rintangan dan gangguan dari kaum kafir Quraisy, maka Khadijah Binti Khuwailid selalu berada di sampingnya untuk menenangkan sekaligus menyenangkan hatinya yang gundah. Khadijah juga mendukung perjuangan suaminya dengan sepenuh jiwa raga dan menyerahkan seluruh harta benda yang dimilikinya. Sebagai pebisnis muslimah sukses yang dermawan, wanita terbaik di dunia ini memang setia, taat dan sayang kepada suami dan anak-anaknya. Khadijah selalu menyiapkan makanan, minuman dan segala keperluan Rasulullah serta mendidik putra putrinya dengan teladan dan penuh kesadaran.
Kisah lebih heroik terjadi pada Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah bersama suami dan kedua putranya ikut dalam Perang Uhud yang berlangsung dahsyat. Ketika pasukan kaum muslimin tercerai berai, Ummu ‘Umarah justru mendekati Rasulullah, bermaksud melindungi di depannya dengan menggunakan pedang. Namun, Ummu ‘Umarah beberapa kali terkena sabetan pedang yaang ditebarkan pasukan musuh. Luka yang paling besar terdapat di pundaknya, karena ditikam Ibnu Qami’ah, hingga dia harus mengobati luka itu setahun lamanya. Pada masa khalifah Abu Bakar Siddiq, Ummu ‘Umarah juga ikut memerangi Musailamah Al-Kadzdzab yang mengaku nabi. Di sinilah Ummu ‘Umarah terpotong tangannya dan kehilangan seorang putranya yang terbunuh.

Sabtu, 23 Februari 2013

Analisis Chi Square

UJI CHI KUADRAT (χ²)
1. Pendahuluan
Uji Chi Kuadrat adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara : 􀀇 frekuensi observasi/yg benar-benar terjadi/aktual
dengan
􀀉 frekuensi harapan/ekspektasi
1.1. Pengertian Frekuensi Observasi dan Frekuensi Harapan
􀀇 frekuensi observasi → nilainya didapat dari hasil percobaan (o)
􀀉 frekuensi harapan → nilainya dapat dihitung secara teoritis (e)
Contoh :
1. Sebuah dadu setimbang dilempar sekali (1 kali) berapa nilai ekspektasi sisi-1, sisi-2, sisi-3, sisi-4, sisi-5 dan sisi-6 muncul?
kategori :
sisi-1
sisi-2
sisi-3
sisi-4
sisi-5
sisi-6
frekuensi ekspektasi (e)
16 16
16 16
16 16
2. Sebuah dadu setimbang dilempar 120 kali berapa nilai ekspektasi sisi-1, sisi-2, sisi-3, sisi-4, sisi-5 dan sisi-6 muncul?
kategori :
sisi-1
sisi-2
sisi-3
sisi-4
sisi-5
sisi-6
frekuensi ekspektasi (e)
20*)
20
20
20
20
20
*) setiap kategori memiliki frekuensi ekspektasi yang sama yaitu :16 x 120 = 20
Apakah data observasi akan sama dengan ekspektasi?
Apakah jika anda melempar dadu 120 kali maka pasti setiap sisi akan muncul sebanyak 20 kali?
Coba lempar dadu sebanyak 120 kali, catat hasilnya, berapa frekuensi kemunculan
setiap sisi?
Catatan saudara tersebut adalah frekuensi observasi.
Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 1 dari 10
1.2. Bentuk Distribusi Chi Kuadrat (χ²)
Nilai χ² adalah nilai kuadrat karena itu nilai χ² selalu positif.
Bentuk distribusi χ² tergantung dari derajat bebas(db)/degree of freedom.
Perhatikan Tabel hal 178 dan 179 (Buku Statistika-2, Gunadarma).
Anda bisa membacanya?
Contoh : Berapa nilai χ² untuk db = 5 dengan α = 0.010? (15.0863)
Berapa nilai χ² untuk db = 17 dengan α = 0.005? (35.7185)
Pengertian α pada Uji χ² sama dengan pengujian hipotesis yang lain, yaitu luas daerah penolakan H0 atau taraf nyata pengujian
Perhatikan gambar berikut :
α : luas daerah penolakan H0 = taraf nyata pengujian
0 + ∞
1.3. Pengunaan Uji χ²
Uji χ² dapat digunakan untuk :
a. Uji Kecocokan = Uji kebaikan-suai = Goodness of fit test
b. Uji Kebebasan
c. Uji beberapa proporsi
Prinsip pengerjaan (b) dan (c) sama saja
2. Uji Kecocokan (Goodness of fit test)
2.1 Penetapan Hipotesis Awal dan Hipotesis Alternatif
H0: frekuensi setiap kategori memenuhi suatu nilai/perbandingan.
H1 : Ada kategori yang tidak memenuhi nilai/perbandingan tersebut.
Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 2 dari 10
Contoh 1 :
Pelemparan dadu 120 kali, kita akan menguji kesetimbangan dadu . Dadu setimbang jika setiap sisi dadu akan muncul 20 kali.
H0 : setiap sisi akan muncul = 20 kali.
H1 : ada sisi yang muncul ≠20 kali.
Contoh 2 :
Sebuah mesin pencampur adonan es krim akan menghasilkan perbandingan antara
Coklat : Gula : Susu : Krim = 5 : 2 : 2 : 1
H0 : perbandingan Coklat : Gula : Susu : Krim = 5 : 2 : 2 : 1
H1 : perbandingan Coklat : Gula : Susu : Krim ≠ 5 : 2 : 2 : 1
2.2 Rumus χ²
χ221=−=Σ()oeeiiiik
k : banyaknya kategori/sel, 1,2 ... k
o : frekuensi observasi untuk kategori ke-i i
e : frekuensi ekspektasi untuk kategori ke-i i
kaitkan dengan frekuensi ekspektasi dengan nilai/perbandingan dalam H0
Derajat Bebas (db) = k - 1
2.3 Perhitungan χ²
Contoh 3 :
Pelemparan dadu sebanyak 120 kali menghasilkan data sebagai berikut :
kategori :
sisi-1
sisi-2
sisi-3
sisi-4
sisi-5
sisi-6
frekuensi observasi
20
20
20
22
20
17
20
18
20
19
20
24
*) Nilai dalam kotak kecil adalah frekuensi ekspektasi
Apakah dadu itu dapat dikatakan setimbang?
Lakukan pengujian dengan taraf nyata = 5 %
Solusi :
Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 3 dari 10
1. H0 : Dadu setimbang → semua sisi akan muncul = 20 kali.
H1 : Dadu tidak setimbang → ada sisi yang muncul ≠20 kali.
2. Statistik Uji χ²
3. Nilai α = 5 % = 0.05
k = 6 ; db = k - 1 = 6-1 = 5
4. Nilai Tabel χ²
k = 6 ; db = k - 1 = 6-1 = 5
db = 5;α = 0.05 → χ² tabel = 11.0705
5. Wilayah Kritis = Penolakan H0 jika χ² hitung > χ² tabel (db; α)
χ² hitung > 11.0705
6. Perhitungan χ²
χ221=−=Σ()oeeiiiik
(catatan : Gunakan tabel seperti ini agar pengerjaan lebih sistematik)
kategori :
oi
ei
(o-e) ii
(o-e)² ii
(o-e)²/e iii
sisi-1
20
20
0
0
0
sisi-2
22
20
2
4
0.20
sisi-3
17
20
-3
9
0.45
sisi-4
18
20
-2
4
0.20
sisi-5
19
20
-1
1
0.05
sisi-6
24
20
4
16
0.80
Σ
120
120
---------
--------------
1.70
χ² hitung = 1.70
7. Kesimpulan :
χ² hitung = 1.70 < χ² tabel
Nilai χ² hitung ada di daerah penerimaan H0
H0 diterima; pernyataan dadu setimbang dapat diterima.
Contoh 4 :
Sebuah mesin pencampur adonan es krim akan menghasilkan perbandingan antara Coklat : Gula : Susu : Krim = 5 : 2 : 2 : 1. Jika 500 kg adonan yang dihasilkan, diketahui mengandung 275 kg Coklat, 95 kg Gula, 70 kg Susu dan 60 kg Krim, apakah mesin itu bekerja sesuai dengan perbandingan yang telah ditentukan? Lakukan pengujian dengan taraf nyata = 1 %.
Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 4 dari 10
Solusi :
1. H0 : perbandingan Coklat : Gula : Susu : Krim = 5 : 2 : 2 : 1
H1 : perbandingan Coklat : Gula : Susu : Krim ≠ 5 : 2 : 2 : 1
2. Statistik Uji χ²
3. Nilai α = 1 % = 0.01
4. Nilai Tabel χ²
k = 4; db =k -1 = 4-1= 3
db = 3; α = 0.01 → χ² tabel = 11.3449
5. Wilayah Kritis = Penolakan H0 jika χ² hitung > χ² tabel (db; α)
χ² hitung > 11.3449
6. Perhitungan χ²
χ221=−=Σ(oeeiiiik )
kategori :
oi
ei
(o-e) ii
(o-e)² ii
(o-e)²/e iii
Coklat
275
250*)
25
625
2.50
Gula
95
100
-5
25
0.25
Susu
70
100
-30
900
9.00
Krim
60
50
10
100
2.00
Σ
500
500
-----------
--------
13.75
*) Perbandingan Coklat : Gula : Susu : Krim = 5 : 2 : 2 :1
Dari 500 kg adonan → Nilai ekspektasi Coklat = 5/10 x 500 = 250 kg
Nilai ekspektasi Gula = 2/10 x 500 = 100 kg
Nilai ekspektasi Susu = 2/10 x 500 = 100 kg
Nilai ekspektasi Krim = 1/10 x 500 = 50 kg
χ² hitung = 13.75
7. Kesimpulan :
χ² hitung > χ² tabel ( 13.75 > 11.3449)
H0 ditolak, H1 diterima.
Perbandingan Coklat : Gula : Susu : Krim ≠ 5 : 2 : 2 :1
Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 5 dari 10
3. Uji Kebebasan dan Uji Beberapa Proporsi
Uji kebebasan antara 2 variabel memiliki prinsip pengerjaan yang sama dengan pengujian beberapa proporsi.
(Berbeda hanya pada penetapan Hipotesis awal dan hipotesis alternatif)
3.1 Penetapan Hipotesis Awal dan Hipotesis Alternatif
A. Uji Kebebasan :
H0 : variabel-variabel saling bebas
H1 : variabel-variabel tidak saling bebas
B Uji Beberapa Proporsi :
H0 : setiap proporsi bernilai sama
H1 : ada proporsi yang bernilai tidak sama
3.2 Rumus Uji χ2
Data dalam pengujian ketergantungan dan beberapa proporsi disajikan dalam bentuk Tabel Kontingensi.
Bentuk umum Tabel Kontingensi → berukuran r baris x k kolom
frekuensiharapantotalkolomtotalbaristotalobservasi x =()( )
χ221=−=Σ(),,oeeijijijijrk
derajat bebas = (r-1)(k-1)
r : banyak baris
k : banyak kolom
o: frekuensi observasi baris ke-i, kolom ke-j ij,
e : frekuensi ekspektasi baris ke-i, kolom ke-j ij,
Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 6 dari 10
3.3 Perhitungan χ²
Contoh 5 :
Kita akan menguji kebebasan antara faktor gender (jenis kelamin) dengan jam kerja di suatu pabrik. Tabel kontingensi dapat dibuat sebagai berikut :
pria
wanita
Total Baris
Kurang dari 25 jam/minggu
2.33
2
2.67
3
5
25 sampai 50 jam/minggu
6.07
7
6.93
6
13
lebih dari 50 jam/minggu
5.60
5
6.40
7
12
Total Kolom
14
16
Total Observasi=
30
*) Nilai dalam kotak kecil adalah frekuensi ekspektasi
Perhatikan cara mendapatkan frekuensi ekspektasi!
Apakah ada kaitan antara gender dengan jam kerja?
Lakukan pengujian kebebasan variabel dengan taraf uji 5 %
Ukuran Tabel Kontingensi di atas = 3 x 2 ( 3 baris dan 2 kolom)
db = (3-1)(2-1) = 2 x 1 = 2
Solusi :
1. H0 : Gender dan Jam kerja saling bebas
H1 : Gender dan Jam kerja tidak saling bebas
2. Statistik Uji = χ²
3. Nilai α = 5 % = 0.05
4. Nilai Tabel χ² db = 2; α = 0.05 → χ² tabel = 5.99147
5. Wilayah Kritis : Penolakan H0 → χ² hitung > χ² tabel
χ² hitung > 5.99147
6. Perhitungan χ²
frekuensiharapantotalkolomtotalbaristotalobservasi x =()( )
frekuensi harapan untuk :
pria, < 25 jam = 14233 x 530=. pria, 25-50 jam = 14x1330= 6.07
Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 7 dari 10
pria, > 50 jam = 14 x 1230 5.60=
wanita, < 25 jam = 16267 x 530=. wanita, 25-50 jam = 16x1330= 6.93
wanita, > 50 jam = 16 x 1230 6.40=
Selesaikan Tabel perhitungan χ² di bawah ini.
kategori :
oi
ei
(o-e) ii
(o-e)² ii
(o-e)²/e iii
P, < 25
2
2.33
-0.33
0.1089
0.1089/2.33 = 0.0467
P, 25 - 50
7
6.07
0.93
0.8649
0.1425
P, > 50
5
5.60
-0.60
0.36
0.0643
W, < 25
3
2.67
0.33
0.1089
0.0408
W, 25-50
6
6.93
-0.93
0.8649
0.1249
W, >50
7
6.40
0.60
0.36
0.0563
Σ
------
-----
--------
---------
χ² hitung = 0.4755
7. Kesimpulan
χ² hitung < χ² tabel (0.4755 < 5.99147)
χ² hitung ada di daerah penerimaan H0
H0 diterima, gender dan jam kerja saling bebas
Catatan : Kesimpulan hanya menyangkut kebebasan antar variabel dan bukan
hubungan sebab-akibat (hubungan kausal)
Contoh 6 :
Berikut adalah data proporsi penyiaran film(satuan pengukuran dalam persentase (%) jam siaran TV) di 3 stasiun TV. Apakah proporsi pemutaran Film India, Kungfu dan Latin di ketiga stasiun Tv tersebut sama? Lakukan Pengujian proporsi dengan Taraf Nyata = 2.5 %
ATV (%)
BTV (%)
CTV (%)
Total Baris (%)
Film India
4.17
4.5
2.92
3.5
2.92
2.0
10
Film Kungfu
3.33
2.5
2.33
1.0
2.33
4.5
8
Film Latin
2.50
3.0
1.75
2.5
1.75
0.5
6
Total Kolom
(%)
10
7
7
Total Observasi (%) =
24
*) Nilai dalam kotak kecil adalah frekuensi ekspektasi
Perhatikan cara mendapatkan frekuensi ekspektasi!
Ukuran Tabel Kontingensi di atas = 3 x 3( 3 baris dan 3 kolom)
db = (3-1)(3-1) = 2 x 2 = 4
Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 8 dari 10
Solusi :
1. H0 : Proporsi pemutaran film India, Kungfu dan Latin di ketiga stasiun
TV adalah sama.
H1 : Ada proporsi pemutaran film India, Kunfu dan Latin di ketiga stasiun TV yang tidak sama.
2. Statistik Uji = χ²
3. Nilai α = 2.5 % = 0.025
4. Nilai Tabel χ² db = 4; α = 0.025 → χ² tabel = 11.1433
5. Wilayah Kritis : Penolakan H0 → χ² hitung > χ² tabel
χ² hitung > 11.1433
6. Perhitungan χ²
frekuensi harapan untuk
India, ATV = 10417 1024×=. Kungfu, ATV = 10333×=824.
Latin, ATV = 10250×=624.
India, BTV = 7292×=1024. Kungfu,BTV = 7233×=824.
Latin,BTV = 7175×=624.
India,CTV= 7292×=1024. Kungfu,CTV = 7233×=824.
Latin, CTV = 7175 x 624=.
Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 9 dari 10
Tabel perhitungan χ² berikut
kategori :
oi
ei
(o-e) ii
(o-e)² ii
(o-e)²/e iii
Ind,ATV
4.5
4.17
0.33
0.1089
0.1089/4.17 = 0.0261
Kf,ATV
2.5
3.33
-0.83
0.6889
0.2069
Lat,ATV
3.0
2.50
0.50
0.2500
0.1000
Ind,BTV
3.5
2.92
-0.58
0.3364
0.1152
Kf,BTV
1.0
2.33
-1.33
1.7689
0.7592
Lat,BTC
2.5
1.75
0.75
0.5625
0.3214
Ind,CTV
2.0
2.92
-0.92
0.8464
0.2899
Kf,CTV
4.5
2.33
2.17
4.7089
2.0201
Lat,CTV
0.5
1.75
-1.25
1.5625
0.8929
Σ
24
------
-------
---------
χ² hitung = 4.7317
7. Kesimpulan : χ² hitung terletak di daerah penerimaan H0.
H0 diterima, proporsi pemutaran ketiga jenis film di ketiga s
stasiun TV adalah sama.
♥ ♥ Uji X2 / thomas yuni gunarto / hal 10 dari 10

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penyebaran malaria di dunia sangat luas yang terbentang antara garis bujur 60o di utara dan 40o di selatan yang meliputi lebih dari 100 negara yang beriklim tropis dan sub tropis. Penduduk yang berisiko terkena malaria berjumlah sekitar 2,3 miliar atau 41% dari penduduk dunia (WHO, 2000). Setiap 300-500 juta kasus malaria dapat mengakibatkan kematian sebanyak 1,5 - 2,7 juta, terutama di Afrika Sub Sahara. Wilayah dunia yang kini telah dinyatakan bebas malaria adalah Eropa, Amerika Utara, sebagian besar Timur Tengah, sebagian besar Karibia, sebagian besar Amerika Selatan, Australia dan Cina (Harijanto, 2000).
Sampai saat ini malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan terjadinya perubahan lingkungan yang memudahkan perkembangan nyamuk vektor malaria (Gandahusada, 2006).  Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001, di Indonesia setiap tahunnya terdapat sekitar 15 juta penderita malaria klinis yang mengakibatkan 30.000 orang meninggal dunia (Depkes RI, 2003). Lebih dari 90 juta orang Indonesia tinggal di daerah endemik malaria. Pada tahun 2001, diperkirakan prevalensi malaria sebesar 850 per 100.000 penduduk dan angka kematian spesifik akibat malaria sebesar 11 per 100.000 untuk laki-laki dan 8 per 100.000 untuk perempuan (Soemarwoto, 2001). Angka kesakitan malaria sejak 4 tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Di Jawa dan Bali meningkat dari 0.12 per 1000 penduduk pada tahun 1997 menjadi 0.52 per 1000 penduduk pada tahun 1999, pada tahun 2001 0.62 per 1000 penduduk dan pada tahun 2002 0.47 kasus per 1.000. Di luar Jawa dan Bali meningkat dari 16.0 per 1000 penduduk pada tahun 1997 menjadi 25.0 per 1000 penduduk pada tahun 1999, pada tahun 2001 26.2 per 1000 penduduk dan pada tahun 2002 19.65 kasus per 1000 penduduk. Selama tahun 1998-2000 kejadian luar biasa (KLB) malaria terjadi di 11 propinsi yang meliputi 13 kabupaten di 93 desa dengan jumlah penderita hampir 20.000 orang dengan 74 kematian (Depkes RI, 2003).
Di Sumatera spesies yang sudah dinyatakan sebagai vektor penting adalah Anopheles sundaicus, Anopheles maculatus, dan Anopheles nigerrimus sedangkan Anopheles sinensis, dan Anopheles letifer merupakan vektor yang kurang penting (Gandahusada, 2006).
Propinsi Bengkulu merupakan daerah yang endemik malaria, adapun nyamuk yang sudah dinyatakan sebagai vektor malaria adalah Anopheles maculatus, Anopheles sundaicus dan Anopheles Nigerrimus. Pada tahun 2004 Propinsi Bengkulu ditemukan 31.023 kasus malaria, dimana di Kota Bengkulu terdapat 5779 kasus malaria (Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu, 2005).
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria di suatu wilayah menurut Blum (1974) dalam Erdinal (2006), dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu tempat perindukan nyamuk dan pemeliharaan ternak besar kemudian faktor perilaku yang sangat berpengaruh seperti kebiasaan memakai kelambu saat tidur pada malam hari, kebiasaan memakai obat nyamuk waktu mau tidur malam hari, kebiasaan memakai repelen pada saat berada di luar rumah pada malam hari, penggunaan kawat kasa nyamuk di rumah.
Dilihat dari data sepuluh besar penyakit terbanyak rawat inap di Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu pada tahun 2010 pada Lampiran 4, diketahui bahwa angka kesakitan malaria masih tinggi dimana penyakit malaria menempati di posisi nomor satu dengan jumlah 748 kasus dan yang terendah adalah pasien menderita Cephalgia sebesar 49 kasus .
Oleh karena itu akan dilakukan penelitian mengenai faktor lingkungan yang dalam hal ini adalah tentang jarak perindukan nyamuk yang berhubungan kejadian malaria. Sedangkan untuk faktor perilaku yang akan diteliti adalah kebiasaan pemakaian kelambu pada waktu tidur pada malam hari.

B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat tingginya angka kejadian malaria pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu, untuk itu perlu dilakukan penelitian yang berguna untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada pasien yang menjalani perawatan/pengobatan di ruangan rawat inap Melati Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu.
C.     Pertanyaan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, maka timbul pertanyaan mengenai apakah ada faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada Pasien Rawat Inap di Ruangan Melati Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu.

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria pada pasien rawat inap di ruangan Melati Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu pada Tahun 2011.
2. Tujuan Khusus
a.   Diketahuinya gambaran faktor lingkungan jarak perindukan nyamuk yang berhubungan dengan kejadian malaria pada pasien rawat inap di ruangan  Melati Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu.
b.   Diketahuinya gambaran faktor perilaku pemakaian kelambu yang berhubungan dengan kejadian malaria pada pasien rawat inap di ruangan  Melati Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu.
c.   Diketahuinya hubungan faktor lingkungan jarak perindukan nyamuk terhadap kejadian  malaria pada pasien rawat inap di ruangan Melati Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu.
d.  Diketahuinya hubungan faktor perilaku pemakaian kelambu terhadap kejadian  malaria pada pasien rawat inap di ruangan Melati Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu.

E. Manfaat Penelitian
1.  Secara Teoritis
a.       Sebagai sumber kepustakaan yang dapat dijadikan  bahan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria.
b.      Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai data dasar pada penelitian selanjutnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian malaria.
2.   Secara Praktis
a.       Sebagai salah satu informasi bagi Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu dalam hal kejadian malaria.
b.      Sebagai bahan masukan bagi masyarakat secara umum untuk meningkatkan pengetahuan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian  malaria.


F.      Keaslian Penelitian
Dilihat dari lokasi, pendekatan penelitian yang digunakan dan berdasarkan informasi melalui perpustakaan, data Rumah Sakit Rafflesia dan internet, peneliti belum menemukan penelitian yang sama dengan penelitian yang akan dilakukan tersebut, jadi penelitian tentang “Faktor-Faktor yang berhubungan dengan kejadian Malaria pada Pasien Rawat Inap Di Ruangan Melati Rumah Sakit Rafflesia Bengkulu Tahun 2011” merupakan penelitian baru dan belum pernah dilakukan sebelumnya.